Loading...

Senin, 20 Februari 2012

MEMILIH KERIS


Tips Memilih dan Memiliki Tosan Aji

Tujuan memilih dan memiliki tosan aji bisa sangat beragam. Ada yang karena dilandasi kekaguman terhadap karya yang dilakukan di masa silam, ada yang karena ingin melestarikan hasil budaya bangsa, ada yang karena alasan investasi dan ada juga yang karena mencari tuah. Untuk alasan terakhir sama sekali tidak disarankan bukan karena alasan dosa, tetapi yang lebih utama dan sering tidak disadari adalah karena rawan penipuan dan berujung kepada kerugian material. Mereka yang mencari tuah seringkali harus mengeluarkan biaya besar yang tidak seimbang. Saya pernah mendengar seorang kolektor menyuruh orang-orangnya mencari pusaka tombak Banyak Angrem tangguh Majapahit. Setelah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit membayar orang kesana kemari, yang didapat akhirnya hanya tombak Kuntul Nglangak tangguh Madura baru.

Mengapa bisa demikian? Padahal, beberapa penjual keris yang saya kenal memiliki tombak Banyak Angrem. Pertama, karena ketidaktahuan dan keabaian si kolektor untuk mau mencari sendiri. Toh jika mau belajar untuk bisa memahami perbedaan ricikan dan dapur sebuah tosan aji serta mencari informasi lebih detail, kerugian itu bisa dihindari. Tidak mau belajar, tidak mau bersusah payah dan bahkan hanya karena mendengar namanya, kontan si kolektor yang punya uang bisa menyuruh orang-orangnya. Buat saya itu kesia-siaan karena mengeluarkan uang hanya mengandalkan pendengarannya saja.

 Alasan lain yang juga harus dihindari saat memilih dan memiliki tosan aji adalah karena mengikuti trend atau mode. Sejalan dengan perkembangan dunia perkerisan saat ini, banyak para kolektor yang juga fanatik terhadap dhapur dan tangguh tertentu. Misalnya saja dhapur Pasopati atau tangguh Sedayu. Dhapur Pasopati cukup populer tetapi ketersediaannya di pasar lebih sedikit. Sementara tangguh Sedayu dikenal sebagai keris dengan garapan yang sangat bagus; besi yang pulen, halus dan benar-benar bagus. Akibatnya seeringkali untuk memenuhi permintaan pasar, banyak muncul keris yang dipermak untuk menaikkan harga jual. Dhapur Kalamisani yang ketersediaannya lebih banyak kemudian dimodifikasi kembang kacangnya menjadi kembang kacang pogog agar menyerupai dhapur Pasopati. Lebih parah lagi misalnya keris lurus dibuat berluk banyak seperti 15 dan 17 ke atas untuk memenuhi kebutuhan pasar seperti itu. Sama halnya dengan tangguh favorit yang kemudian muncul tiruan baru yang benar-benar mirip. Pembedaan hanya bisa dilakukan secara fisik dalam arti si kolektor harus punya jam terbang tinggi untuk bisa membedakan beragam dhapur dan tangguh.

Sebagai kolektor pemula yang masih ingusan, saya berpegang kepada beberapa tips di bawah ini:
  1. Ada pedoman standar berupa kriteria fisik berupa istilah TUS (tangguh, utuh sepuh) yang artinya seseorang yang ingin memilih dan memiliki tosan aji haruslah memahami tangguh kapan itu dibuat, tosan aji yang diinginkan juga harus dalam keadaan utuh secara fisik dan juga usia tosan aji itu dipastikan tua. Untuk aspek yang terakhir tidak berlaku jika ingin memiliki keris atau tombak buatan baru (biasanya digolongkan sebagai tangguh Kamardikan atau buatan setelah tahun 1945). Selain istilah TUS ada juga istilah yang berdasarkan kriteria emosional seperti 3G2W yakni Gebyar Greget Guwaya Wingit Wibawa dan juga kriteria spiritual seperti AST yakni Angsar Sejarah Tayuh. Akan tetapi kedua kriteria ini jelas bersifat subyektif sehingga pembuktiannya akan berbeda antara satu orang dengan lainnya, sehingga kriteria fisik tetap harus menjadi pegangan utama dalam memilih dan memiliki tosan aji.
  2. Dengan demikian syarat pertama memilih dan memiliki tosan aji adalah  tidak cacat fisik. Pengertian cacat fisik disini adalah mengikuti pakem yang berlaku yakni keris/tombak tidak patah, ricikan masih lengkap, kembang kacang, bilah dan pesi masih utuh. Ada tuntunan pakem yang berlaku dan harus dihindari misalnya Pegat Waja (bilah keris/tombak rengat seperti tripleks basah), Nyangkem Kodok (antara bilah dan ganja di bagian greneng terbuka lebar), Randa Beser (antara bilah dan ganja di bagian bungkul terdapat rongga) dan Pamengkang Jagad (retak terutama di bagian sorsoran). Untuk Pamengkang Jagad, kriteria ini tidak berlaku bagi mereka yang mencari keris berdasarkan kriteria spiritual. Berbeda dengan pihak Kraton yang menghindari keris retakl pasar justru menyediakan keris yang dianggap cacat di bagian ini atau combong dengan istilah keren Pamengkang Jagad dan banyak dicari orang bahkan terutama di negara tetangga lantaran dikenal sebagai sarana untuk 'asihan'.
  3. Lantas jika prasyarat fisik sudah diketahui, bagaimana dengan soal tangguh? Menangguh keris jelas butuh pengalaman dalam memegang banyak keris agar bisa mengetahui tangguh meski hanya perkiraan (lihat tulisan saya yang lain di blog ini tentang Tangguh Keris). Seringkali ini menjadi sumber sengketa antara pembeli dan penjual tosan aji karena kesalahan baik yang tidak disengaja atau sengara dalam hal menangguh keris. Penjual yang kurang berpengalaman bisa saja salah dalam menangguh keris, sementara ada juga yang nakal dengan mengatakan keris baru adalah keris tua apalagi jika sudah melalui proses kamalan yakni membuat bilah menjadi keropos dengan larutan kimia sehingga terlihat tampak tua. Hal yang mungkin bisa dilakukan pada tahap ini adalah dengan belajar sebanyak-banyaknya memegang bilah keris.
  4. Pengamatan selanjutnya adalah dengan mengamati kandungan logam dengan memperhatikan bobot keris. Itu sebabnya menjadi penting bagi pihak penjual agar tidak saja menampilkan tosan aji berdasarkan kriteria panjang dan lebar tetapi juga beratnya. Ada kesepakatan umum bahwa semakin ringan bobot sebuah keris, maka kualitasnya juga semakin baik. Sama halnya dengan bilah yang semakin lama nyaring jika dijentik, maka kualitasnya juga bagus. Oleh karena itu, penting untuk bisa membedakan baik buruknya kandungan logam secara awam dalam empat kategori yakni (a) logam dengan kesan basah hingga kering, (b) logam dengan kesan rabaan halus hingga kasar, (c) logam yang berurat hingga mulus dan (d) logam dengan kesan padat hingga berpori.

CONTOH PENGAMATAN PERMUKAAN FISIK TOSAN AJI



 Halus, Basah, Keras, Sangat Tahan Karat





Berserat, Keras, Tahan Karat


Kasar, Keras, Kurang Tahan Karat


Halus, Basah, Liat, Tahan Karat



Kasar, Kering, Kesan Berpori


Halus, Berpasir, Kurang Tahan Karat


Selain beberapa tips diatas dalam memilih dan memiliki tosan aji, hal penting lainnya adalah lebih baik memulai dengan dhapur tosan aji baik keris atau tombak yang sederhana terlebih dahulu. Selain masih aman dari unsur penipuan, kerumitan dan juga hasrat yang berlebih, keris dengan dhapur sederhana seperti Brojol atau Tilam Upih merupakan awal yang baik dalam mempelajari ricikan dan pengenalan tosan aji seperti di atas. Simbolisme dhapur Brojol berupa kelahiran atau Tilam Upih berupa laku kehidupan prihatin juga memiliki posisi tersendiri dalam diri kolektor pemula seperti saya.

Banyak bertanya dan menggali informasi dari sumber-sumber tertulis juga sangat membantu. Pada saat ini sudah banyak literatur atau referensi baik lama maupun baru yang diterbitkan maupun bisa diunduh online. Penerjemahan beberapa sumber tertulis mengenai ricikan keris, dhapur dan pamor juga memperkaya referensi yang sangat berguna ketika akan memilih dan mengoleksi keris. Mengikuti perkumpulan juga merupakan cara yang cukup baik jika anda tahan dengan mentalisme paguyuban ala Hobbesian Jawa. Saya pribadi menghindari bentuk seperti ini karena seperti halnya kolektor benda-benda lain, banyak orang dengan ego yang cukup besar untuk tidak mau disaingi oleh para pemula. Terlebih jika tosan aji adalah benda yang masih suka dikaitkan dengan pancarian spiritual. Dari awal bicara soal keris kontan bisa mendadak hanya membahas soal 'isi'. Saya pribadi lebih suka berkunjung ke museum dan bisa bertanya apa saja disana, dibandingkan mengikuti orang-orang yang merasa dirinya senior yang dengan segala kerendahan hati enggan mengakui tapi menikmati keberadaan seperti itu.

Hal yang tidak kalah pentingnya adalah mengetahui segala sesuatu yang berkaitan secara langsung dengan tosan aji seperti pemesanan dan pembuatan warangka serta pembelian perangkat lain yang anda butuhkan. Disini logika pasar masih tetap bermain. Anda harus paham betul harga dan kualitas kayu, emas, perak bahkan jual beli perangkat yang dibutuhkan sebagai pelengkap seperti jagrak, ploncon, blawong, sandangan dan sejenisnya. Untuk kualitas massal di Jakarta, pasar Rawabening adalah tempatnya. Disana bisa juga untuk mencuci dan mewarangi tosan aji. Sementara Museum Pusaka TMII menawarkan harga dan kualitas lebih tinggi dan juga menjual perangkat seperti mendak, pendok. Bursa tosan aji dengan sertifikasi dan keaslian yang terjamin juga tersedia meski relatif juga lebih mahal. 

Apapun itu, semua tergantung lagi kepada isi kantong, niat dan juga kemampuan anda berhadapan dengan ego sendiri bukan?  
Salam kagem mas Sulis nJamprit, mas Sulis Mojoroto, mas Iwan Dungleri, lek Nardi Batukidul............salam budaya !

Selasa, 14 Februari 2012

FILOSOFI SEBUAH KERIS


Keris dalam masyarakat Jawa, sekarang digunakan untuk pelengkap busana Jawa, keris sendiri memiliki banyak filosofi yang masih erat dalam kaitannya dengan kehidupan masyarakat Jawa. Makna filosofis yang terkandung dalam sebuah keris sebenarnya bisa dilihat mulai dari proses pembuatan hingga menjadi sebuah pusaka bagi pemiliknya.
Seiring berjalannya waktu dan modernisasi, kita sadari bahwa perlu dilakukan pelestarian terhadap warisan leluhur ini agar tidak terkikis akan perkembangan jaman,  keris atau dalam bahasa jawa disebut tosan aji, merupakan penggalan dari kata tosan yang berarti besi dan aji berarti dihormati, jadi keris merupakan perwujudan yang berupa besi dan diyakini bahwa kandungannya mempunyai makna yang harus dihormati, bukan berarti harus disembah-sembah tetapi selayaknya dihormati karena merupakan warisan budaya nenek moyang kita yang bernilai tinggi.
Bila kita merunut dari pembuatnya atau yang disebut empu, ini mempunyai sejarah dan proses panjang dalam membuat atau menciptakan suatu karya yang mempunyai nilai estetika yang tinggi. Empu menciptakan keris bukan untuk membunuh tetapi mempunyai tujuan lain yakni sebagai piyandel atau pegangan yang diyakini menambah kewibawaan dan rasa percaya diri, ini dapat dilihat dari proses pembuatannya pada zaman dahulu. Membuat keris adalah pekerjaan yang tidak mudah, membutuhkan sebuah keuletan, ketekunan, dan mental yang kuat, sehingga para pembuat harus meminta petunjuk dari Tuhan melalui  laku / berpuasatapa / bersemadi dan sesaji untuk mendapatkan bahan baku.
Posisi keris sebagai pusaka mendapat perlakuan khusus mulai dari proses menyimpan, membuka dari sarung sampai dengan merawatnya, hal ini sudah merupakan tradisi turun temurun yang masih dilakukan oleh masyarakat Jawa yang masih meyakini. Kekuatan spiritual didalam keris diyakini dapat menimbulkan satu perbawa atau sugesti kepada pemiliknya. Menilik Pada masa kerajaan Majapahit,  keris terbagi menjadi 2 kerangka yang saat ini masih menjadi satu acuan si empu atau pembuat keris, yakni rangka Gayaman dan rangka Ladrang/Branggah. Saat ini rangka Gayaman banyak dipakai sebagai pelengkap busana Jawa Yogjakarta dan rangka Ladrang banyak dipakai sebagai pelengkap busana Jawa Surakarta.
Nilai atau makna filosofis sebuah keris bisa pula dilihat dari bentuk atau model keris, atau yang disebut dengan istilah dapur. Selain dari dapurnya, makna-makna filosofi keris juga tecermin dari pamor atau motif dari keris itu sendiri. Keris bukan lagi sebagai senjata, namun masyarakat Jawa memaknai bahwa keris sekarang hanya sebagai ageman atau hanya dipakai sebagai pelengkap busana Jawa yang masih mempunyai nilai spiritual religius, dan sebagai bukti manusia yang lahir, hidup dan kembali bersatu kepada Tuhan sebagai Manunggaling Kawulo Gusti.